Sosial Media
0
News
    Home Berita Informasi Kisah Inspiratif Kisah Nyata

    "Masjid Jami’ Al-Hidayah Sinar Banten: Penguat keberagaman dalam kultur Budaya di Pekon Wargomulyo"

    4 min read

    Masjid Jami’ Al-Hidayah Sinar Banten: Jejak Sejarah, Perkembangan, dan Peran Sentral dalam Kehidupan Umat di Wargomulyo
    Sumber: Himpunan profil masjid dari Dream.co.id dan Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama Republik Indonesia

    www.tintadigitalnews.com – Masjid Jami’ Al-Hidayah yang berada di Dusun Sinar Banten, Pekon Wargomulyo, Kecamatan Pardasuka, merupakan salah satu masjid bersejarah yang telah berdiri sejak tahun 1940.

    Dengan usia lebih dari delapan dekade, masjid ini menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan keagamaan masyarakat sekaligus pusat aktivitas sosial yang terus hidup dari generasi ke generasi.
    Dibangun melalui: Swadaya dan gotong royong para tokoh kampung
    Tahun Didirikan: 1940 Lokasi: Dusun Sinar Banten, Pekon Wargomulyo, Kecamatan Pardasuka, Lampung Status: Masjid Bersejarah

    PARDASUKA — Di Dusun Sinar Banten, Pekon Wargomulyo, Kecamatan Pardasuka, Lampung, berdiri Masjid Jami’ Al-Hidayah, sebuah masjid bersejarah yang didirikan sejak tahun 1940. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan waktu dari masa kolonial hingga sekarang, di mana masyarakat dari berbagai daerah berkumpul dalam satu tempat. Dengan usia lebih dari 80 tahun, masjid ini menjadi pusat penting bagi warga setempat.

    "ARSIP BUKU BESAR DARI KANTOR URUSAN AGAMA PARDASUKA"

    Pada era 1940-an, ketika Indonesia masih di bawah penjajahan, sekelompok tokoh kampung di Sinar Banten membangun masjid ini secara swadaya. Saat itu, daerah ini masih sederhana tanpa fasilitas modern. Dengan semangat gotong royong, mereka membuat masjid yang kemudian berkembang hingga sekarang. Renovasi beberapa kali dilakukan untuk memperkuat bangunan, sambil menjaga nilai tradisionalnya.

    "Masjid Jami’ Al-Hidayah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan dan warisan budaya yang harus dijaga," kata seorang tokoh masyarakat setempat.

    Saat ini, masjid ini dipimpin oleh Ketua DKM Gus Kharis, putra dari almarhum KH. Ahmad Zubaidi Hasy, ulama yang dikenal di Pardasuka. Gus Kharis, yang juga bekerja sebagai ASN di KUA Pardasuka,membantu mengembangkan program pembinaan jamaah dan administrasi masjid. Tokoh-tokoh seperti Imam Besar Kiyai Haji Husni Hasyim, Kiyai Asmani Rawi, Tokoh Sesepuh Datuk Haji Nasihuddin dan Bapak Haji Bagio, para ust Muda seperti Kang Ust Pur Kang Ust Asmaul Khair Kang Ust Tohir serta para pemuda dalam organisasi RISMA (Remaja Islam Masjid), yang di gerakkan oleh Mas Febri, dan Mas Angger berperan aktif dalam menjaga dan mengembangkan masjid ini.

    Masjid ini berperan lebih dari sekadar tempat shalat. Ia menjadi pusat kegiatan seperti pengajian rutin, kajian kitab, majelis taklim, tadarus Al-Qur’an, dan pendidikan bagi anak-anak. Selain itu, masjid sering digunakan untuk santunan anak yatim, pembinaan remaja, dan kegiatan kebersihan lingkungan, yang melibatkan banyak warga.

    Di Wargomulyo, khususnya Dusun Sinar Banten, masjid ini menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai suku, seperti Suku pribumi Saibatin Lampung, suku Serang Banten, Sunda, Pandeglang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Padang, dan Medan. Keragaman ini membuat masjid sebagai simbol toleransi, di mana semua orang bisa bersatu meski berbeda latar belakang.

    Masjid ini juga pernah menjadi objek penelitian akademis. Pada tahun 2020, mahasiswa magister (S2) Nikmatul Mukarromah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meneliti dengan judul "Pendidikan Agama dan Resolusi Konflik Sosial Keagamaan pada Masyarakat Multi Kultural di Dusun Sinar Banten Desa Wargomulyo". Penelitian ini membahas bagaimana masjid membantu pendidikan agama dan mengatasi potensi konflik di masyarakat yang beragam. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan di masjid ini bisa menjadi cara untuk menjaga harmoni sosial.

    Fakta Menarik tentang Masjid Jami’ Al-Hidayah

    • Usia Masjid: Lebih dari 80 tahun
    • Pengurus DKM: yang semuanya masih dalam kategori pemuda (sesuai UUD kepemudaan)
    • Kegiatan Utama: Pengajian, kajian kitab, dan kegiatan sosial
    • Renovasi: Beberapa kali untuk memperkuat bangunan
    • Keragaman Suku: Suku Lampung, Serang Banten, Sunda, Pandeglang, Jawa Tengah, Jawa Timur,Padang, dan Medan
    • Penelitian Akademis: Tesis S2 oleh Nikmatul Mukarromah (2020) tentang pendidikan agama dan resolusi konflik

    Dari segi bangunan, Masjid Jami’ Al-Hidayah telah diperbaiki beberapa kali agar lebih kuat dan nyaman. Renovasi ini dilakukan bersama masyarakat, donatur, dan tokoh setempat, menjaga semangat gotong royong.

    Masjid ini juga berfungsi sebagai tempat pendidikan Al-Qur’an. Banyak anak di Sinar Banten belajar dasar agama di sini sebelum melanjutkan ke tempat lain. Ini membantu membangun hubungan antar generasi dan membentuk karakter anak-anak.

    Pada hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Nuzulul Qur’an, Isra Mi’raj, dan Tahun Baru Islam, masjid ini ramai dikunjungi jamaah. Jumlah pengunjung yang terus bertambah menunjukkan pentingnya masjid bagi masyarakat.

    Dengan usia lebih dari 80 tahun, Masjid Jami’ Al-Hidayah tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Di bawah kepemimpinan DKM sekarang, masjid terus berfungsi sebagai pusat agama, sosial, dan pendidikan, memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

    Komentar
    Additional JS